Engineering vs Politics, Kegalauan Seorang Engineer Muda

Cerita ini berawal dari kegalauan teman saya yang sudah cukup lama lulus tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Teman saya ini lulusan jurusan teknik dari institut teknologi yang namanya sangat terkenal di negeri ini. Kuliah lancar, aktif organisasi, IP nya bagus, lulusnya juga terbilang tepat waktu, pergaulan luas, masalah komunikasi oke, penguasaan hal teknis dan software juga lancar, karena tugas akhirnya menggunakan software. Tapi dia mengeluh kenapa belum diterima kerja. Dan yang dia keluhkan lagi, lowongan pekerjaan sedikit sekali. Itu dia membandingkan dengan banyaknya lowongan saat dia tingkat akhir, alias lowongan saat kakak tingkatnya sedang pada lulus. Saat itu lowongan banyak sekali. Dengan banyaknya lowongan, otomatis yang diterima kerja juga banyak. “Nggak ada yang susah nyari kerjaan waktu itu”, katanya.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Ocean Engineering for Biological Diversity

Gara-gara membaca artikel tentang International Day of Biological Diversity, saya jadi kepikiran, apakah saya sebagai mahasiswa Teknik Kelautan bisa berpartisipasi dalam hal ini. Kenapa saya berpikir seperti ini? karena anggapan orang bahwa orang struktur, perancang bangunan, pembangun gedung, infrastruktur, dll, sepertinya hanya dianggap tukang merusak lingkungan. Saya tidak memungkiri itu, karena selama ini pembangunan infrastruktur lebih banyak mementingkan kebutuhan manusia, dan trend “Green Building” hanya sebatas mengurangi efek yang ditimbulkan, dan masih tetap banyak negatifnya. Read the rest of this entry »

Ocean Engineer Vehicle

Setelah biasanya saya posting serius di blog ini, sekarang giliran saya posting sebuah selingan berupa gambar plat nomor milik seorang Profesor Teknik Kelautan di California sana.

Hmm, saya jadi berpikir, bisakah saya membuat plat nomor untuk kendaraan saya di Indonesia yang berbau Teknik Kelautan? Ada ide?

sumber

Teknik Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Siapa bilang kerjaan insinyur Teknik Kelautan cuma offshore platform, breakwater, dan pelabuhan?

Siapa bilang mahasiswa Teknik Kelautan jauh dari masalah sosial dan hanya orientasi bisnis?

Dalam rangka mengikuti Community Development Competition dalam rangka ITB Fair 2010, saya beserta teman saya Wisnugraha Teknik Tenaga Listrik ITB ’06 beserta Azmi Ghafery Teknik Mesin ’06 membuat proposal tentang pemberdayaan masyarakat pesisir. Berawal dari keprihatinan saya dan teman saya soal kondisi nelayan dan masyarakat pesisir di kampung halaman kami, Yogyakarta, kami sepakat mencoba mencari solusi bagaimana pemanfaatan teknologi dan penemuan baru khususnya di bidang kelautan dan energi.

Dalam solusi ini, kami memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga ombak dengan Oscillating Water Column seperti di gambar. Dengan memanfaatkan potensi ombak besar di pantai Gunungkidul, Yogyakarta, kami mencoba menggunakan pembangkit listrik model ini untuk mengaliri listrik sebuah kampung nelayan yang cukup besar namun tanpa listrik yg memadai. Dalam lebih lanjutnya, listrik tersebut akan digunakan juga untuk kegiatan pengolahan hasil laut untuk menambah penghasilan dan meningkatkan kemandirian masyarakat nelayan pesisir dalam meningkatkan kesejahteraan.

Untuk selengkapnya silakan download proposalnya disini, silahkan dibaca, dan sampaikan saran dan kritiknya. Jadi, gak ada alasan lagi ilmu Teknik Kelautan tidak aplikatif dan jauh dari kehidupan sosial sehari-hari masyarakat?