Gross Split vs Cost Recovery, dari pandangan Structure/Asset Integrity Engineer

Beberapa waktu lalu ada wacana dari Menteri ESDM Ignasius Jonan, tentang wacana skema investasi migas di Indonesia. Dari sistem cost recovery, anggaran dikelola negara dan bagi hasil, menjadi skema gross split, murni bisnis seperti bidang lain, dan ada bagi hasil kotor (semacam bayar retribusi). Menteri ESDM, background nya swasta, dan dengan tujuan efisiensi, makanya terpikirlah ide ini. Tapi kita cek dan telaah dulu lah..

Selama ini, anggapan cost recovery ribet adalah karena semua proses bisnis ini, dianggap menggunakan aset negara. Jadi kalau negara yang punya, mau ngapa2in, mau beli apa2, mau menentukan kebijakan apa, harus di-approve oleh negara (dalam hal ini Dirjen Migas, sebagai regulator, dan SKK Migas, sebagai penentu anggaran). Seringkali ini bertentangan dengan kebijakan, strategi, atau itungan bisnis dari perusahaan Migas (K3S), sehingga harus ngalah, dan mereka menganggap ini rugi, apalagi mayoritas perusahaan Migas di Indonesia berasal dari luar negeri, jadi menganggap capek sekali berbisnis di Indonesia. Read the rest of this entry »

Advertisements
Posted in Migas. 1 Comment »

Fakta tentang Offshore Decommissioning Indonesia

Alhamdulillah kemarin saya berkesempatan dapet free ticket seminar 3rd IndoDecomm, dan saya bermaksud berbagi review dari acara tsb dalam bentuk fakta2 menarik soal Decomm di Indonesia dalam tulisan ini. File presentasinya sudah saya share disini, silahkan didownload.

Sebelumnya saya kasih intro dulu mengenai decomm ini ya. Jadi decomm ini maksudnya adalah proses pencabutan / penghilangan fasilitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas, khususnya di lepas pantai (offshore decomm). Yang dihilangkan tidak hanya platform nya, tapi semua fasilitas lainnya, spt pipeline, peralatan di dalam platform, dan sumur minyak dan gas nya.

Untuk mempersingkat waktu, saya tuliskan review fakta menarik tentang offshore decomm di Indonesia berikut: Read the rest of this entry »

Posted in Migas. 1 Comment »

Digital Future of Oil & Gas & Energy (review)

Belum lama ini, saya membaca laporan / artikel dari perusahaan General Electric (GE) divisi Oil and Gas. Laporan ini berjudul Digital Future of Oil and Gas. Laporan ini terutama membahas trend mengenai penggunaan teknologi digital pada industri minyak dan gas. Laporan ini sekaligus menyikapi meningkatnya tantangan pada industri migas, mulai dari turunnya harga minyak, pertumbuhan kebutuhan energi global, kebutuhan pengelolaan data dan informasi perusahaan, serta faktor geopolitik dan lain2.

Laporan ini sangat menarik, karena ternyata penggunaan teknologi di dunia migas terhitung cukup tinggi, apabila dibandingkan dengan industri lainnya. Itu untuk waktu sekarang. Ke depan, penggunaan jelas akan meningkat pesat, karena tuntutan industri yang ketat, memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi dan pemanfaatan teknologi dalam menunjang proses bisnis perusahaan. Read the rest of this entry »

Pemilihan Material untuk Pipa

Pemilihan material menggunakan logam ( metal ) sudah mulai diterapkan secara umum sejak tahun 1950-an berdasarkan standar API  Code 5L tentang pemilihan material pipa. Pada akhir 1980-an berdasar kode API pula, sudah ada beberapa macam tipe material pipa, yaitu A25, A, B, X42, X46, X52, X56, X60, X64, X70 dan X80. Setiap tipe material mempunyai karakteristik zat dan material penyusun masing-masing. Spesifikasi material baja yang digunakan tergantung pada komposisi kimiawi, kekuatan material, dan toleransi pipa dalam industri dan manufaktur.

Beberapa material harus ditentukan untuk mendapatkan material pipa yang tepat sesuai kebutuhan sistem perpipaan. Kriteria – kriteria dibawah ini dapat digunakan dalam pemilihan material untuk pipa :

  • Mechanical properties, termasuk ketahanan untuk menahan static loaddynamic load, dan elastisitas dalam proses manufaktur
  • Weld ability, kemudahan dan kekuatan material pipa dalam proses pengelasan.
  • Corrotion resistance, kemampuan material dalam menahan korosi.
  • Cost, berhubungan dengan biaya yang harus dikeluarkan per satuan ukuran material.
  • Availability, terkait dengan ketersediaan dan suplai material pada pasaran, sebagai pertimbangan untuk volume cadangan dan biaya

Material yang yang sering digunakan dalam dunia migas, industri, dan manufaktur terdiri dari dua, yaitu :

  • Carbon Steel
Material pipa jenis ini adalah yang paling banyak digunakan, spesifikasinya banyak ditemukan dalam ASTM ( American Society of Testing and Materials ) dan ASME ( American Society of Mechanical Engineering ).
Ada 3 jenis pipa material ini yang paling sering digunakan :
  1. ASTM A106. Terbagi dalam 3 grade, tergantung Tensile Strengh nya; Grade A ( 48 ksi ), Grade B ( 60 ksi ), dan Grade C ( 70 ksi ).
  2. ASTM A53. Material pipa ini yang biasanya dilapisi oleh zinc ( galvanized ), yang biasanya merupakan alternatif dari ASTM A106. Material ini juga terbagi dalam 3 Grade, A, B dan C, dan memilik 3 tipe; Tipe E ( Electrical Resistance Weld ), Tipe F ( Furnace Butt Weld ), dan Tipe S ( Seamless ). Grade A dan B pada ASTM 106 memiliki Tensile Strength yang sama dengan Grade A dan B pada ASTM A53.
  3. ASTM A333.  Material ini biasa digunakan pada fluida yang memiliki temperatur rendah, mulai dari -50 derajat Fahrenheit.
  • Stainless Steel
Material pipa ini dinamakan austenitic stainless steel. Namun secara umum biasanya disebut stainless steel. Stainless steel mempunyai grade 108, tetapi yang biasa digunakan adalah tipe 304L. Sesuai kode L dibelakang nama 304L, tipe ini mengandung cukup sedikit campuran karbon daripada tipe 304, tetapi memiliki kekuatan yang tinggi dan ketahanan terhadap korosi yang cukup baik.
Pada dunia industri yang sebenarnya, ada dua jenis pipa stainless steel yang paling sering dipakai, yaitu:
  1. ASTM A312, untuk pipa berukuran dibawah 8 inci.
  2. ASTM A358, untuk pipa berukuran diatas 8 inci.
Selain 2 tipe material diatas (  Carbon Steel dan Stainless Steel ), masih banyak lagi material yang dipakai dalam dunia perpipaan, walaupun jarang digunakan, yaitu :
  • Chrome-Moly Pipe ( Chromium-Molybdenum Alloy Pipe ), yang terdiri dari 10 grade, merujuk pada kode ASTM A335.
  • Nickel and Nickel Alloy Pipe, contoh penggunaan secara luas adalah Inconel, Incoloy dan Monel.
  • Piping Cast Iron ( pipa besi )
  • Copper Piping ( pipa tembaga )
  • Plastic Pipe ( pipa plastik )
  • Concrete Pipe ( pipa beton ).

Sumber :

http://pipinganalysis.blogspot.com/2011/07/pipe-material-selection.html

http://pipinganalysis.blogspot.com/2011/07/frequently-used-pipe-material.html

http://pipinganalysis.blogspot.com/2011/07/pipe-material.html

Pemilihan Jalur Pipa Offshore

Dalam proyek industri offshore, pemilihan jalur pipa bawah laut tidak semudah yang dibayangkan. Banyak tahapan, proses, analisis, dan pengujian yang harus dilewati. Berikut ini adalah prosesnya :

Secara umum pemilihan jalur pipa offshore diusahakan sependek mungkin untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan untuk material pipa maupun biaya menggelar pipa nya. Tapi dalam kenyataan di lapangan, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan kemudian, diantaranya adalah :

  • Jalur pipa tidak boleh pada lokasi kerukan atau lokasi buangan material yang dilakukan secara reguler.
  • Jalur pipa harus menghindari penghalang, landfall, ataupun cekungan yang dapat mengakibatkan free span yang besar.
  • Jalur pipa harus menghindari area memancing umum atau industri perikanan lainnya.
  • Dilarang membangun pipa di wilayah konservasi, seperti terumbu karang, shipwreck, ataupun situs arkeologi.
  • Keberadaan pipa lain, wellhead, dan fasilitas subsea lainnya harus dipertimbangkan dalam jalur pipa
  • Karakteristik dan stabilitas jenis material seabed harus dipilih sebagai alas kokoh untuk pipa.
  • Survey geoteknik harus dilakukan untuk memastikan kemananan dan kekuatan pipa pada area-area freespan yang akan dilalui.
  • Pipa, bersama dengan kabel, harus dirancang agar jumlah simpangan / crossing seminimal mungkin.
  • Untuk jalur pipa model parit / dikeruk, harus dipertimbangkan sedimentasi pada jalur pipa.
  • Jalur pipa diusahakan untuk menghindari jalur pelayaran yang padat untuk menghindari resiko terkena jangkar kapal.

Sumber :

http://www.decc.gov.uk/assets/decc/11/ccs/chapter6/6.35-offshore-pipeline-route-selection-report.pdf

http://www.decc.gov.uk/assets/decc/11/ccs/chapter6/6.6-onshore-and-offshore-pipeline-design-philosophy.pdf

http://www.advancepipeliner.com/site/index.php?option=com_content&view=article&id=21

Referensi :

  1. API RP-1111, Design, Construction, Operation and Maintenance of Offshore Hydrocarbon Pipelines, 1999.
  2. BSI 8010, Part 3, Offshore Pipelines.
  3. Guidance Nots on Geotechnical Investigations for Marine Pipelines, Society for Underwater Technology, 2004.

Mengenal Jenis-jenis Ketebalan Pipa

Dalam dunia industri terutama bidang Teknik Kelautan, pipa adalah salah satu unsur penting. Pipa, adalah merupakan salah satu unsur penting dalam offshore structure. Pipa merupakan bagian dari struktur industri migas. Dalam dunia industri secara umum, pipa dibuat, dibentuk, dan diproduksi dalam beberapa ukuran atau dimensi yang sudah terstandardisasi. Salah satu dimensi pada pipa adalah ketebalan pipa, yang sudah ditentukan dalam bentuk angka kode, bukan langsung merujuk pada angka ketebalan pipa.

Secara umum, jenis ketebalan pipa dibagi menjadi 3, yaitu :

  • Double Extra Strong ( XXS )
  • Extra Strong ( XS )
  • Standard ( STD )

Sekarang ini penamaan ketebalan pipa ditentukan melalui kode angka yang disebut Schedule, misalnya 5 dan 5S, diikuti 10 dan 10S. Setelah itu ukuran bertambah kelipatan 10 menjadi 20, 30, dan 40. Setelah itu kelipatannya naik menjadi 20, sehingga ukuran selanjutnya adalah 60, 80, sampai dengan 160.

Ketebalan pipa berukuran Schedule 40 kurang lebih sama besarnya dengan pipa STD dengan Schedule 1/8 inch hingga 10 inch. Sedangkan pipa Schedule 80 kurang lebih sama besarnya dengan pipa XS dengan Schedule 1/8 inch hingga 10 inch. Pipa Schedule 5 hingga 10 biasanya digunakan pada pipa berbahan Stainless Steel. Sedangkan untuk pipa berlubang kecil biasanya menggunakan Schedule 80, apabila menggunakan yang lebih besar dari itu, hanya menambah ketebalan saja dan kekuatan nya akan berlebihan melebihi yang kita butuhkan.

Pipa biasanya diproduksi sesuai kebutuhan tergantung pada material, ukuran dan Schedule. Namun secara umum, pipa diproduksi berdasar ukuran panjang umum, yaitu panjang 20 feet atau 6 feet untuk pipa Carbon Steel. Panjang ini disebut random length, dan banyak pula produsen yang memproduksi pipa berukuran dua kali random lenght, atau sekitar 12 feet.

topik: pipeline wall thickness

sumber : http://pipinganalysis.blogspot.com/2011/07/pipe-wall-thickness.html

Posted in Migas. Tags: . Leave a Comment »

Versabar VB10000, Rig Remover seharga $100 juta

Membongkar sebuah rig sangat tidaklah mudah, perlu waktu lama, butuh tenaga dan perlatan yang banyak. Harus potong sana – sini, las sana -sini, dan tentunya merupakan pekerjaan yang penuh resiko bagi pekerja maupun peralatan. Rig Remover buatan Versabar ini dapat melakukan pekerjaan itu semua hanya dalam beberapa jam, dengan resiko dan harga yang jauh lebih kecil dibandingkan menggunakan cara manual.

Caranya sangat mudah, hanya butuh beberapa penyelam untuk memasang kabel, memotong kaki rig/platform, kemudian sisanya biarkan alat yang bekerja. Angkat dan angkut ke barge yang akan membawa ke darat untuk diproses selanjutnya. Dengan seukuran lapangan sepakbola dan tinggi gedung 25 lantai, Rig Remover ini sangat dibutuhkan di dunia umumnya dan Amerika khususnya, terutama saat banyak rig yang sudah tidak layak pakai akibat umur dan badai di teluk Meksiko.

Sebelum badai Ivan melanda Teluk Meksiko di tahun 2004, tidak banyak kejadian yang memaksa para rig harus ‘pensiun’. Saat itu terdapat sekitar 200 rig yang rusak, bahkan tenggelam akibat badai. Banyak yang hingga sekarang belum diangkat ataupun dibongkar. Saat itu Jon Khachaturian, CEO dari Versabar, menangkap peluang akan bisnis yang sangat menggiurkan ini. Read the rest of this entry »