Gross Split vs Cost Recovery, dari pandangan Structure/Asset Integrity Engineer

Beberapa waktu lalu ada wacana dari Menteri ESDM Ignasius Jonan, tentang wacana skema investasi migas di Indonesia. Dari sistem cost recovery, anggaran dikelola negara dan bagi hasil, menjadi skema gross split, murni bisnis seperti bidang lain, dan ada bagi hasil kotor (semacam bayar retribusi). Menteri ESDM, background nya swasta, dan dengan tujuan efisiensi, makanya terpikirlah ide ini. Tapi kita cek dan telaah dulu lah..

Selama ini, anggapan cost recovery ribet adalah karena semua proses bisnis ini, dianggap menggunakan aset negara. Jadi kalau negara yang punya, mau ngapa2in, mau beli apa2, mau menentukan kebijakan apa, harus di-approve oleh negara (dalam hal ini Dirjen Migas, sebagai regulator, dan SKK Migas, sebagai penentu anggaran). Seringkali ini bertentangan dengan kebijakan, strategi, atau itungan bisnis dari perusahaan Migas (K3S), sehingga harus ngalah, dan mereka menganggap ini rugi, apalagi mayoritas perusahaan Migas di Indonesia berasal dari luar negeri, jadi menganggap capek sekali berbisnis di Indonesia.

Yang saya amati di tempat saya bekerja, semua divisi harus menyiapkan pengajuan anggaran untuk program kerja, dan harus rapat berulang2 dengan SKK Migas, agar proposal program dan anggarannya diterima. Disini mungkin terlihat seperti boros energi. Karena bisa berubah, dihapus, atau harus ganti ulang program dan anggaran. Jadi energi dan pikiran para engineer, manajer, dan manajemen perusahaan cukup tersita untuk ini, padahal kita juga mengalami tuntutan melaksanakan program kerja lainnya, belum lagi soal masalah di lapangan yang hampir selalu ada saja. Demikian seterusnya.

Bagaimana dengan sistem gross split? Sejauh ini masih dibahas dan dirumuskan detail kebijakannya (entah jadi apa tidak :p). Tapi sepanjang yang saya baca, ya skema nya seperti investasi di bidang lain. Nanti perusahaan bayar semacam royalti/retribusi, diluar pajak tentunya. Perusahaan fokus berbisnis, cari untung, dan semakin besar untungnya, semakin besar pula bagian yang diterima negara. Perusahaan akan termotivasi mengambil sebanyak2nya agar makin untung, dan merawat sumur agar produksi tetap terus tinggi. Kebijakan juga sampai level perusahaan, tidak sampai level negara, yang membuat jadi lama akibat proses birokrasi. Bagi pelaku bisnis, jelas ini menguntungkan, asalkan royalti nya jg tidak memberatkan. Saya survey kecil2an, para engineer, manajemen perusahaan Migas (K3S) lebih suka seperti ini, karena ujung2nya, yang repot juga yg bawah2 :D.

Nah sudah bicara enaknya gross split, apakah ada kekurangannya? Jelas ada, inilah justru yang dikhawatirkan pelaku diluar industri, tetapi merasa kekayaan SDA Indonesia adalah milik mereka juga. Dan ingat, kita punya undang2 1945 Pasal 33:

  • Ayat 2: Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
  • Ayat 3 : Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Inilah yang menjadi benteng hambatan bahwa investasi SDA tidak bisa sembarangan dikelola asing (kasus Freeport dan tambang lain, entah ya, diluar topik :p). Jadi sebaiknya bagaimana? Sebetulnya mudah, tinggal pilih saja jalan tengah, ambil sisi positif dari masing2 sistem. Bagi saya, proses bisnis lebih baik serahkan ke perusahaan, agar efisien. Bagian negara apa? Mengatur detail2 lainnya agar kedaulatan negara, dan kekayaan negara, tidak dieksploitasi asing, jadi Indonesia tetap untung.

Bagian mana saja yang diatur? Banyak sekali. Yang terpikir sekarang oleh saya berikut ini:

  • Skema bagi keuntungan, negara harus lebih besar. Tapi proporsi nya harus sesuai biaya eksplorasi dan produksi. Lapangan di darat, biaya lebih rendah, tentu proporsi pemerintah jauh lebih besar. Di laut, apalagi laut dalam, mestinya jatah perusahaan lebih besar. Bisa mencapai 50:50 kalau memang perlu.
  • Tingkat produksi dan metering. Walaupun murni bisnis, tetap harus mempunyai target, karena negara juga perlu jaminan suplai BBM dan gas. Produksi jg harus diawasi agar nilai bagi hasil nya jelas.
  • Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Ini jelas, agar SDM, alat, dan lain2 tetap harus lokal, pemberdayaan. Harus mayoritas seperti sekarang.
  • Masalah keselamatan (HSE). Jelas, untuk melindungi tenaga kerja dan lingkungan.
  • dll

Ada satu lagi yang terpikir oleh saya, dan ini terkait posisi saya sebagai Structure/Asset Integrity Engineer. Selama ini, perusahaan wajib menjaga dan merawat aset (bangunan, fasilitas, alat, dll), karena itu semua milik negara. Selain itu berdasarkan pengalaman, perusahaan yang sudah habis kontraknya, pengelolaan akan diserahkan ke Pertamina, sehingga fasilitas produksi harus dijaga agar usia asetnya sepanjang mungkin. Ini juga terkait kedaulatan agar Pertamina pun bisa mengelola lapangan walaupun bekas perusahaan asing.

Nah ini yang saya khawatirkan kalau sistem gross split diterapkan. Perusahaan di penghujung kontrak (ataupun diawal kontrak) akan malas merawat dan menjaga aset dan fasilitas produksi apabila ujung-ujungnya diserahkan ke Pertamina. Inilah yang harusnya tetap diterapkan, aset dan fasilitas produksi harus dirawat sampai kontrak habis. Selama ini walaupun sudah pakai cost recovery, tetap saja aset2 perusahaan yang akan habis kontraknya, tidak dirawat. Dari sumur yang tidak ditingkatkan produksi nya, hingga fasilitas produksi yang dibiarkan kualitasnya turun (korosi, alat2 rusak, dll). Selama ini Pertamina dapat bekas yang sudah rusak, sehingga serah terima nya justru membuat Pertamina rugi karena revitalisasi aset nya mahal. . Inilah terutama yang harus tetap dijaga dan diawasi walaupun sistem gross split. Karena biaya paling tinggi dari cost recovery selama ini adalah biaya produksi, yang terkait dengan kualitas aset.

Advertisements
Posted in Migas. 1 Comment »

One Response to “Gross Split vs Cost Recovery, dari pandangan Structure/Asset Integrity Engineer”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: