Akhir Cerita Pelabuhan Cilamaya

cilamaya

Bagi yang mengikuti beritanya, keputusan akhir tentang Pelabuhan Cilamaya akhirnya jelas sudah. Pelabuhan tersebut  akhirnya dibatalkan dibangun. Misalkan jadi, lokasinya akan dipindah ke daerah Subang atau Indramayu. Alasannya adalah keberadaan Pelabuhan Cilamaya dikhawatirkan mengganggu platform dan pipa milik Pertamina Hulu Energi – Offshore North West Java (PHE-ONWJ). Platform dan pipa milik perusahaan tsb berlokasi di dekat area pelabuhan tersebut. Dengan adanya pelabuhan, akan ada kapal-kapal yang mengancam fasilitas migas di area tersebut.

Awal Mula Rencana Pelabuhan Cilamaya

Pelabuhan Cilamaya adalah bagian dari masterplan MP3EI di bidang infrastruktur yang dicanangkan SBY. Selain pelabuhan ini, ada total 15 proyek infrastruktur seperti pembangunan tol Trans Sumatra, jalur double-track kereta api Jawa, dan lain-lain. Pembangunan pelabuhan ini juga bertujuan mengurangi beban pelabuhan Tanjung Priok. Pemilihan lokasi Cilamaya juga dikarenakan dekat dengan industri di kawasan Bekasi, Cikarang, dan Karawang, sehingga kegiatan ekspor impor menjadi lebih mudah dengan lokasi pelabuhan yang dekat. Banyaknya industri negara Jepang di kawasan tsb juga menambah dukungan pengusaha Jepang untuk membantu pendanaan pembangunan pelabuhan Cilamaya. Tentunya dengan syarat diberikan kemudahan dan hak akses atau pengelolaan khusus yang sampai sekarang masih dipertimbangkan pemerintah. Karena selama ini pelabuhan perdagangan umum tidak ada yang dikelola khusus oleh swasta asing.  Awal Konflik dengan PHE-ONWJ

Setelah berita pembangunan pelabuhan Cilamaya mengemuka, ada keberatan dari PHE ONWJ, karena adanya pelabuhan di kawasan sekitar mereka akan mengancam keberadaan lapangan migas yang sudah beroperasi. Selain adanya 223 platform yang beroperasi, terdapat juga jalur pipa bawah laut yang akan dilintasi jalur kapal menuju Pelabuhan Cilamaya. Keberadaan kapal yang melepas jangkar bisa membahayakan keberadaan pipa. Dari sisi teknis, sebenarnya tindakan pencegahan dapat dilakukan, yaitu dengan menentukan rute kapal agar tidak melalui area anjungan milik PHE ONWJ. Selain itu, area lepas jangkar bisa dilarang di area pipa. Namun mengingat jumlah kapal yang diperkirakan jumlah dan volumenya sangat besar, PHE ONWJ tidak mau mengambil resiko, karena mereka pun harus mengeluarkan biaya dan usaha tambahan untuk mengurangi resiko2 yang terjadi. Sebenarnya sebesar apakah resikonya? PHE ONWJ menyumbang pasokan minyak dan gas yang cukup besar, sekitar 50ribu barel perhari. Selain itu, PHE ONWJ adalah sumber gas untuk PLTU Muara Karang Jakarta. Kalau PLTU tidak beroperasi karena suplai terganggu, Jakarta akan gelap gulita tanpa listrik.

Penolakan Dirut Pelindo II

Sebagai operator pelabuhan Tanjung Priok dan pelabuhan lainnya dibawah perusahaan tsb, RJ Lino mengatakan tidak setuju dengan dibangunnya Pelabuhan Cilamaya. Alasan utamanya adalah ketersediaan dana. APBN sekarang sedang digunakan untuk membangun Tanjung Priok II atau Kalibaru. Tidak mungkin dibuat satu lagi pelabuhan besar, meskipun nantinya uangnya dari pinjaman. Bagi Lino, lebih baik membangun jalan akses ke Priok senilai 5 triliun daripada membangun Cilamaya 25 triliun, karena masalah Priok hanya akses jalan menuju ke pelabuhan. Selain itu, Lino juga menyiapkan Pelabuhan Cirebon sebagai pendukung Tanjung Priok. Dananya dari internal perusahaan dan obligasi.

Keputusan Terakhir

Beberapa waktu lalu, Jusuf Kalla meninjau sendiri lokasi Pelabuhan Cilamaya dari udara dan dengar pendapat dari berbagai pihak termasuk Pertamina. Dan keputusan final nya adalah menggeser lokasi pelabuhan ke arah timur, Subang atau Indramaya. Feasibility study akan dilakukan kembali nantinya. Pertimbangan utama pemindahan lokasi adalah dikarenakan bentrok dengan kepentingan Pertamina (PHE ONWJ).

In my opinion..

Bagi saya, pendapat RJ Lino terdengar paling masuk akal. Disaat pemerintah menginginkan efisiensi seperti ini, sepertinya megaproyek yang boros dana harus ditunda terlebih dahulu. Walaupun nantinya pelabuhan besar yang berlokasi dekat kawasan industri tetap diperlukan. Ke depan, kawasan industri di daerah Karawang Indramayu dan sekitarnya akan bertambah pesat, sesuai rencana Kementrian Perindustrian. Nantinya harus ada pelabuhan besar untuk mendukung Tanjung Priok.

Untuk sekarang, pelabuhan pendukung yang masuk akal adalah pelabuhan Cirebon. Akses menuju Cirebon sudah terbuka karena tol Cikampek – Palimanan sudah terbuka untuk Lebaran tahun ini. Sehingga dari kawasan industri sekarang pun tidak masalah untuk menuju Pelabuhan Cirebon, hanya akses di kawasan Pelabuhan Cirebon perlu dibenahi sedikit. Selain itu, untuk sementara problem di Tanjung Priok adalah akses jalan dan manajemen yang buruk. Kemacetan di pelabuhan, pungli, dan dwelling time (waktu bongkar muat) yang lama membuat kita semakin malas mendengar Tanjung Priok. Bisa jadi itulah sebabnya ada usulan bangun pelabuhan baru yang manajemen lebih bagus, kalau perlu dikelola swasta pun tak masalah.

picture2

Selain itu, my opinion terpenting adalah, jangan dulu membangun pelabuhan Cilamaya, tapi bangun atau perbesar pelabuhan utama jalur pendulum Nusantara, yaitu pelabuhan Belawan Medan,  Batu Ampar Batam, Tanjung Perak Surabaya, Makassar, dan Sorong. Kelima pelabuhan tersebut adalah backbone trasnportasi logistik Indonesia. Mestinya itu jangan dilupakan. Kepentingan nasional adalah meratakan pembangunan melalui laut. Tidak melulu urusan ekspor impor. Barang dan jasa nasional tidak hanya di Jawa, tapi juga ditempat lain. Sumber daya apalagi, lebih banyak diluar Jawa. Apabila itu tidak terpenuhi, percuma ekspor impor tapi pembangunan tidak merata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: