Engineering vs Politics, Kegalauan Seorang Engineer Muda

Cerita ini berawal dari kegalauan teman saya yang sudah cukup lama lulus tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Teman saya ini lulusan jurusan teknik dari institut teknologi yang namanya sangat terkenal di negeri ini. Kuliah lancar, aktif organisasi, IP nya bagus, lulusnya juga terbilang tepat waktu, pergaulan luas, masalah komunikasi oke, penguasaan hal teknis dan software juga lancar, karena tugas akhirnya menggunakan software. Tapi dia mengeluh kenapa belum diterima kerja. Dan yang dia keluhkan lagi, lowongan pekerjaan sedikit sekali. Itu dia membandingkan dengan banyaknya lowongan saat dia tingkat akhir, alias lowongan saat kakak tingkatnya sedang pada lulus. Saat itu lowongan banyak sekali. Dengan banyaknya lowongan, otomatis yang diterima kerja juga banyak. “Nggak ada yang susah nyari kerjaan waktu itu”, katanya.

Tahun tersebut adalah sekitar tahun 2011-2012, dan tahun dia kesulitan mencari pekerjaan adalah di tahun 2013 ini. Tadinya saya penasaran, tapi ternyata jawabannya mudah saja. Semua orang di negara ini tahu tahun depan, 2014 adalah tahun pemilu. Saya berpikir sebelumnya bahwa tahun pemilu itu hanya faktor mitos. Sebelumnya saya berpikir, politik tidak berpengaruh ke bidang engineering, terutama yang saya bahas disini adalah bidang migas. Tadinya saya berpikir migas urusannya clean dengan politik. Maksudnya clean disini adalah dunia teknis dan investasi migas sama sekali tidak terkait dengan dunia politik. Dan ternyata saya salah besar. Hampir tidak ada bidang yang tidak terkait dengan politik. Apalagi dengan satu persatu terkuaknya kasus korupsi yang melibatkan bidangnya macam-macam. Dari pertanian, agama, hukum, hingga terakhir dunia migas pun kena. Indonesia negara yang belum maju ( dan koruptif ), segala lini yang bisa menghasilkan uang pasti dirambah, termasuk dunia migas. Padahal investasi di dunia migas adalah sangat mahal, ditambah resikonya besar, sehingga sangat tidak mungkin dilakukan investasi menjelang atau saat tahun politik, karena pasti ancaman “pungli” untuk mendanai kegiatan politik sangat besar.

Kembali ke teman saya tadi. Teman saya berminat memasuki dunia migas. Bagi perusahaan konstruksi dan konsultan ( EPCI) ,sudah jelas menjelang tahun ini hampir tidak ada proyek. Kalaupun ada, itu proyek lama, yang sebentar lagi selesai. Bagi owner atau operator migas, cukup aman, tidak terpengaruh. Sayangnya fresh graduate cenderung lebih banyak dibutuhkan di perusahaan EPCI, sedangkan owner atau operator banyak membutuhkan engineer experienced, lulusan-lulusan dari EPCI. Jelas sudah, wajar lowongan menurun. Saya bertanya pada beberapa alumni, jangankan para freshgrad, para engineer yang baru bekerja beberapa tahun aja sampai nggak ada kerjaan di perusahaan EPCI. Karena apa? ya karena nggak ada proyek. Kalaupun ada, ya proyek lama, atau proyek kecil-kecil, yang menurut perusahaan EPCI besar, itu tidak penting, makanya proyeknya nggak diambil. Otomatis kurang proyek, sumber daya manusia nganggur.

Beberapa perusahaan EPCI memang sudah menyiapkan langkah untuk kondisi khusus ini. Tidak hanya di Indonesia, beberapa multinational company besar yang sudah berpengalaman biasanya sudah pintar menyiasati situasi ini. Karena situasi ini tidak hanya dialami di Indonesia. Banyak negara berkembang yang politiknya belum stabil juga mengalami ini, seperti Brazil, Venezuela, Kazakstan, negara-negara Timur Tengah, hingga Afrika. Bahkan ada juga negara maju yang terganggu juga dengan situasi politik yang berimbas ke dunia migas. Perusahaan besar yang mempunyai wilayah kerja banyak, biasanya mengirim engineernya keluar negeri, untuk mengisi kekurangan di negara yang proyeknya sedang berlimpah. Strategi memutar engineer ini banyak dilakukan para perusahaan besar. Itu untuk engineer yang beruntung. Bagi yang tidak, bisa saja dia tetap dipekerjakan, tapi diluar bidangnya, misalkan awalnya offshore, pindah ke onshore, bahwa ke document controller, atau menjadi project management.

Berbicara diluar dunia migas, beruntunglah yang mendalami bidang onshore atau pelabuhan. Rekan-rekan saya yang mendalami bidang ini sedang kebanjiran job. Setelah saya baca-baca dan ngobrol bersama alumni serta menyimak di milis-milis, ternyata ujung-ujungnya karena politik juga. Kebalikan dengan dunia migas, dunia ini beruntung karena menjelang ganti pemerintahan, uang yang dianggarkan harus habis. Alhasil banyak sekali proyek yang semi-mendadak, agar anggaran terserap. Teman saya yang bekerja sebagai engineer pelabuhan ini berkata, proyek pembangunan pelabuhan di Indonesia seperti tidak habis-habis. Sangat wajar, karena Indonesia sangat kekurangan jumlah pelabuhan yang layak, sehingga proyek terus ada, didukung dana yang banyak, sementara investasi di dunia ini terbilang murah apabila dibanding dunia migas. Selain itu banyak proyek pelabuhan besar, yang jangka waktunya panjang, sehingga kecil pengaruhnya akibat tahun politik.

Kenyataan diatas adalah hal yang wajar, yang mau tidak mau harus kita terima, karena kita harus memahami negara kita masih belum stabil dan “dewasa” secara politik, ekonomi, dan lain-lain. Sehingga wajar kalau imbasnya kemana-mana. Sebagai engineer muda ( atau yang tua juga :p ), sebaiknya persiapkan diri dengan baik, rajin membaca dan mengikuti perkembangan. Selama ini banyak yang berpikir, kita ngurusin teknis saja. Padahal tidak, informasi juga penting. Selain itu, jujur saya kurang setuju dengan sikap teman saya yang galau tadi, karena dia sebegitu ngototnya pengen masuk dunia migas, karena dia berpikir dia cocok disitu. Saya pikir, “Lha tau darimana cocok, masuk aja belum pernah, terlalu cepat memutuskan cocok apa nggak cocok”. Itulah pikiran saya, apa salahnya masuk sub-bidang yang lain, asalkan masih satu bidang. Jangan terlalu terpatok, banyak sub bidang yang lain yang juga menarik dan berprospek, asalkan ditekuni dan menjadi ahli disitu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: